Masuk

Ingat Saya

Berbeda Tapi Satu: Berbagai Perayaan Tahun Baru di Indonesia

images

Senin lalu (8/1) saudara kita yang beretnis Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek. Selain Tahun Baru Imlek, bangsa Indonesia juga mengenal perhitungan tahun lainnya dan melakukan perayaan pergantian tahun yang berbeda-beda. Berikut adalah berbagai perayaan tahun baru di Indonesia:

1.Tahun Baru Masehi 

Tahun Baru Masehi dirayakan setiap tanggal 1 Januari. Tahun Masehi awalnya adalah perhitungan tahun yang digunakan oleh umat Kristen di Eropa sebagai penanda waktu sejak awal lahirnya Yesus Kristus. Oleh sebab itu, masa sebelum masehi dalam Bahasa Inggris disingkat dengan B.C (Before Christ/ sebelum lahirnya Kristus). Kini, kalender masehi disepakati untuk menjadi sistem penanggalan secara internasional.

Perayaan Tahun Baru Masehi biasanya dilakukan secara meriah. Yang khas dari perayaan Tahun Baru Masehi adalah pesta kembang api di setiap negara. Pesta tersebut biasanya diadakan di tempat yang menjadi ikon negara tersebut, seperti Monas (Indonesia), Menara Eiffel (Prancis), Patung Liberty (USA), dan sebagainya.

2.Tahun Baru Imlek

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan hari pertama di bulan pertama pada penanggalan Tiongkok, yang juga merupakan hari pergantian Shio (zodiak Tionghoa). Rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek diakhiri di hari kelimabelas yang disebut Cap Go Meh. Tahun Baru Imlek baru boleh dirayakan secara terbuka dan menjadi hari libur nasional sejak tahun 2000, setelah sebelumnya dilarang oleh pemerintahan orde baru.

Pada perayaan Tahun Baru Imlek etnis Tionghoa berkumpul dengan keluarga, berdoa dan mengingat kembali leluhur mereka, kemudian makan malam bersama. Yang khas dari perayaan Imlek adalah pemberian angpao dari keluarga yang sudah menikah ke saudara-saudaranya yang belum menikah. Selain itu, perayaan Imlek di Indonesia juga memiliki beberapa sajian kuliner khas, seperti Kue Keranjang dan Jeruk Mandarin.

3.Tahun Baru Saka (Nyepi)

Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Saka oleh umat Hindu di Indonesia. Disebut Nyepi karena pada hari pertama di Tahun Saka, umat Hindu tidak merayakannya dengan hingar bingar tapi dengan melakukan Tapa  Brata Penyepian. Tapa Brata Penyepian meliputi: amati geni (tidak menggunakan dan menghidupkan api dalam bentuk apapun, termasuk api amarah dalam diri), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang). Umat Hindu diharapkan untuk bisa melakukan refleksi dalam diam dan membersihkan dirinya di tahun yang baru.

Beberapa hari sebelum Hari Raya Nyepi, umat Hindu pergi ke pantai untuk prosesi melasti. Kemudian, sehari sebelum Tahun Baru Saka, umat Hindu melakukan prosesi mecaru yang diikuti oleh upacara pengrupukan. Pada prosesi pengrupukan, umat Hindu menyebar-nyebar nasi tawur, berkeliling pekarangan rumah membawa obor (api) sambil memukul benda-benda apa saja hingga bersuara gaduh. Melasti, mecaru, dan pengrupukan merupakan prosesi penyucian Bhuana Alit/microcosmos (alam atau jiwa manusia) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta) sebelum melaksanakan Tapa Brata Penyepian esok harinya. Dewasa ini, upacara pengrupukan diramaikan oleh perlombaan dan pawai ogoh-ogoh di setiap wilayah di Bali maupun daerah lain yang banyak umat Hindunya.

 

4. Tahun Baru Islam (Satu Suro)

Tahun Baru Islam dilaksanakan setiap tanggal 1 Muharram dalam kalender Hijriyah (kalender Islam). 1 Muharram  juga bertepatan dengan satu suro, yaitu hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Suro. Hal ini dikarenakan Kalender jawa yang diterbitkan Sultan Agung mengacu penanggalan Hijriyah (Islam). Hal ini menyebabkan etnis Jawa merayakan Tahun Baru Islam sedikit berbeda dengan umat Islam dari daerah lain. Mereka menyebutnya perayaan malam satu suro.

Malam satu suro biasanya diperingati pada malam hari setelah magrib, sehari sebelum tanggal masehi berganti. Sebab pergantian hari Jawa dimulai pada saat matahari terbenam dari hari sebelumnya, bukan pada tengah malam. Pada malam satu suro, etnis Jawa terutama daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah melakukan tradisi jalan sepanjang malam dengan membisu. Di Yogyakarta, etnis Jawa berjalan mengitari daerah Benteng sehingga dikenal dengan prosesi Mubeng Beteng.

 

Indonesia merupakan negara dengan suku bangsa dan agama yang beragam. Hal ini juga terlihat dari banyaknya sistem penanggalan yang digunakan oleh bangsa Indonesia, berdasarkan suku bangsa dan agamanya. Dan yang paling menyenangkan adalah kita bisa ikut merasakan kemeriahan perayaan pergantian tahun yang berbeda-beda. Menikmati perbedaan budaya disetiap perayaan, atau paling tidak, bisa menikmati hari libur yang lebih banyak 😉

Dengan
tulisan panjang lainnya dapat dijumpai di widarioka.wordpress.com