Masuk

Ingat Saya

Masih Saktikah Pancasila pada Dirimu?

unduhan

Surat kabar Kompas, September 2008, pernah melakukan jajak pendapat tentang penerapan atau aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat. Hasilnya, cukup mengejutkan karena banyaknya orang yang lupa dengan sila-sila yang terkandung dalam Pancasila. Dari survey yang pernah dilakukan Kompas ditemukan bahwa yang mampu menjawab sila pertama sebanyak 90%, sila kedua 72%, sila ketiga terdapat 77 persen yang hafal. Mirisnya, sila keempat hanya diingat oleh 30% responden. Mereka mengaku tidak hafal karena sila keempat mempunyai kalimat yang relatif panjang dibandingkan dengan sila-sila yang lainnya. Sedangkan pada sila ke-5 hanya 70,8 persen yang mengaku hafal dengan sila yang berbunyi, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” (data diambil dari http://www.kompasiana.com/dachroni/hilangnya-pesona-pancasila_5510c1d4813311ae36bc6c9f).

Fakta di atas cukup menggambarkan apa yang terjadi pada bangsa Indonesia. Saya pun sempat iseng-iseng meminta beberapa teman-teman sesama kaum muda tentang sila-sila dalam Pancasila. Hasilnya, kebanyakan tersendat di sila keempat, dan pada sila kelima biasanya ditambahkan dengan kata-kata seperti “adil pada mereka yang beruang”, atau “keadilan yang mana?”.

Ini cukup mengerikan untuk saya, dan negara ini tentunya. Pancasila adalah dasar negera Indonesia. Nilai-nilai luhur bangsa Indonesia terkandung di dalamnya. Pancasila harusnya melekat di dalam benak kita sebagai bangsa. Sebagai pedoman berperilaku, saya rasa Pancasila sudah sangat cukup. Tapi bagaimana bisa mengamalkannya, jika ingat pun tidak.

Tak kenal maka tak sayang, begitu katanya. Pancasila menjadi sesuatu yang dielu-elukan setiap kali upacara bendera. Maka, jika ditanyakan pada mereka yang masih SD sampai SMA, juga para guru-guru, mereka tentunya bisa dengan mudah menyebutkannya. Tapi untuk mereka yang sudah lulus SMA, yang tidak pernah lagi upacara, sila-sila Pancasila hampir tidak pernah terdengar di telinga. Saking tidak pernah terdengarnya, lalu kaum muda pelan-pelan menjadi lupa bahwa Pancasila adalah ideologi bangsa Indonesia. Indonesia sudah punya ideologi, yaitu Pancasila. Bukan ideologi liberal atau komunis, apalagi ideologi radikal. Jadi, berhentilah mencari pandangan hidup baru, tapi bacalah kembali tentang filsafat Pancasila, atau paling tidak pahami butir-butir Pancasila.

Pancasila sudah berbicara tentang banyak hal. Tentang bahwa bangsa Indonesia itu berketuhanan yang esa, meski disebut dengan berbagai nama dan berbagai kisah keagamaannya. Bahwa rakyat Indonesia memiliki perikemanusiaan yang adil dan beradab. Bahwa kita bersatu sebagai bangsa Indonesia, walau kini membuat persatuan-persatuan baru yang bermunculan. Bahwa kita menghormati sistem kerakyatan dan musyawarah dalam mengambil keputusan, meski kini voting lebih sering digunakan sebagai jalan pintas atas nama keadilan. Dan yang terakhir, bahwa kita menjunjung tinggi keadilan, meski banyak yang pesimis dengan pemerintah yang dikatakan kurang adil. Tapi pertanyaannya, jika Pancasila adalah nilai dasar bangsa, sekalipun pemerintah dikatakan kurang bisa adil, apa berarti kita tidak perlu mengamalkan keadilan yang beradab dalam kehidupan kita sehari-hari?

Akhir kata, yuk kembali ke Pancasila. Kembali membangun bangsa Indonesia dengan semangat Pancasila. Supaya hari kesaktian Pancasila bukan hanya sekedar hafalan tanggal penting. Dan tentunya agar Pancasila bukan hanya sekedar hafalan yang susah dihafal sila keempatnya.

Salam damai,

Widarioka

 

Dengan
tulisan panjang lainnya dapat dijumpai di widarioka.wordpress.com